Ngembat dari internet.
Sosok wanita luar biasa.. bener2 bisa menyempurnakan kehidupan kanjeng nabi SAW.
15 tahun lebih tua dari kanjeng nabi SAW dan satu2nya pendamping sampai Khadijah ra. wafat
———————————————————————————————————————-
Khadijah ra. adalah sosok wanita yang tidak akan terlupakan oleh umat Islam hingga akhir jaman. Kita tidak bisa menganggapnya sebagai tokoh figuran atau sekedar pelengkap dalam dakwah Rasulullah saw. Perannya di sisi Nabi Muhammad saw. sangat penting, bahkan vital.
Khadijah ra. adalah istri pertama Rasulullah saw. Rasulullah saw. berpoligami, namun hal tersebut dilakukannya setelah Khadijah ra. wafat. Usianya 15 tahun lebih tua daripada Rasulullah saw., dan ketika dinikahi, ia sudah menjadi seorang janda. Ia adalah saudagar kaya, sedangkan Muhammad saw. adalah seorang pedagang sederhana. Cinta tumbuh di antara mereka karena keluhuran akhlaq masing-masing.
Meski jauh lebih dari suaminya dan seorang janda pula, namun cinta Rasulullah saw. padanya tidak tanggung-tanggung. Dari sekian banyak istri Rasulullah saw., yang dinikahinya dalam keadaan perawan hanya satu, yaitu Aisyah ra. Ia juga dikenal paling cantik dan paling muda, sehingga wajar jika paling disayang. Namun Aisyah ra. sendiri mengaku cemburu pada Khadijah ra. Padahal, ketika Rasulullah saw. menikahi Aisyah ra., Khadijah ra. telah wafat.
Kecemburuan Aisyah ra. bukan tanpa alasan. Rasulullah saw. memang sangat mencintai Khadijah ra., bahkan setelah ia wafat. Rasulullah saw. seringkali menyebut-nyebut istri pertamanya itu dan memuji-muji kebaikannya. Beliau pun rajin berziarah ke makamnya, dan seringkali menangis jika mengingatnya. Begitu kuat ikatan di antara mereka, hingga Aisyah ra. yang paling muda dan paling cantik pun cemburu pada orang yang telah lama wafat!
Khadijah ra. memang bukan perempuan sembarangan. Ia adalah seorang perempuan besar yang telah ditakdirkan untuk berpasangan dengan seorang lelaki agung.
Setelah menerima wahyu yang pertama kalinya di Gua Hira, Rasulullah saw. pulang ke rumahnya dalam keadaan menggigil ketakutan. Belum pernah beliau demikian ketakutan sebelumnya. Dalam keadaan pucat, ia terduduk, menggigil dan ketakutan. Dalam situasi-situasi genting semacam ini, yang hadir untuk menenangkannya bukanlah sahabat terdekat seperti Abu Bakar ra., bukan pula seorang pemuda perkasa seperti Ali bin Abu Thalib ra., namun Khadijah ra. Rasulullah saw. ketakutan karena menyangka dirinya telah didatangi oleh setan, namun Khadijah ra. menguatkannya dengan keyakinan. Ia yakin suaminya tidak akan didatangi oleh setan, karena ia adalah pria yang amat soleh dan tidak pernah berbuat kejahatan walau secuil pun. Di saat Rasulullah saw. merasa ragu, bahkan ketakutan, Khadijah ra. berada di sisinya dan mengembalikan keberaniannya.
Khadijah ra. adalah seorang saudagar kaya. Kekayaannya itu habis tanpa sisa ketika rakyat Mekkah memutuskan untuk mengisolir Rasulullah saw. dan para pengikutnya. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk mengeluhkan keadaan ini. Ia pernah merasakan menjadi orang kaya, namun tidak mengeluh ketika harus menjadi miskin. Dalam masa-masa ini, bahkan Rasulullah saw. pun merasa sedih atas nasib para pengikutnya. Beruntung, ia memiliki seorang istri yang tegar bagai batu karang di sisinya.
Khadijah ra. tidak bisa memimpin pasukan di medan perang. Ia juga tidak bisa mengkoordinasi kerja sedemikian banyak pengikut Rasulullah saw. Ia pun tidak memiliki kemampuan untuk bernegosiasi dengan berbagai pihak untuk mengamankan jalan dakwah suaminya. Namun ia mampu menyokong Rasulullah saw. dengan kekuatannya sendiri. Dengan keberadaan dirinya, Rasulullah saw. dapat tegar hingga akhirnya keluar menjadi pemenang. Jauh setelah Khadijah ra. wafat, kekuatannya masih tersisa dan membuat Nabi Muhammad saw. tetap tegar di jalan dakwah.
Perempuan setara dengan laki-laki. Hak tersebut tidak perlu diperjuangkan lagi, karena memang demikianlah adanya sejak dahulu kala. Jika ada penyimpangan, maka bukan Islam yang salah, namun kitalah yang salah menafsirkan.
Manusia kini terbagi dalam dua ekstrem. Di ekstrem yang satu, ada pendapat yang mengatakan bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Ini adalah pemikiran yang aneh, dan ironisnya, banyak umat Islam yang berada di ekstrem ini. Di sisi lain, ada pula ekstrem lain yang mengatakan bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama. Memang mereka setara, namun tidak sama. Ketika kita menyamakan laki-laki dan perempuan, muncullah penderitaan, dan yang paling menderita biasanya justru perempuan.
Dalam rangka ‘menyamakan’ laki-laki dan perempuan, maka kaum feminis pun menyamakan batas-batas auratnya dengan laki-laki. Hasilnya tentu tidak menyenangkan. Hormon seksual laki-laki berjumlah 10 kali lipat dari perempuan, dan akibatnya laki-laki jauh lebih mudah terangsang daripada perempuan. Ketika perempuan tidak lagi menutup auratnya, maka muncullah pemerkosaan, pelecehan seksual, dan di mata laki-laki, perempuan tidak lebih dari sekedar pemuas nafsu.
Ke mana kita akan berkiblat? Ke Amerika Serikat? Ke Eropa? Apakah kaum perempuan di sana hidup bahagia? Di negara-negara maju, pemerkosaan adalah hal yang amat lazim terjadi. Biasanya perempuan dibuat mabuk terlebih dahulu, lalu dalam keadaan tidak sadar atau setengah sadar, ia bisa diperlakukan seenaknya. Ini adalah fakta yang terjadi di sana. Ratusan perempuan kehilangan keperawanannya pada malam pesta dansa (prom night), dan tak satu pun di antara mereka yang tidak menyesal, meski mereka melakukannya dengan kesadaran sendiri. Jika mereka mengatakan bahwa negara-negara barat menjunjung tinggi hak perempuan, maka hal tersebut adalah sebuah kebohongan yang amat besar.
Ketika perempuan dipaksa untuk menjalani aktivitas seperti laki-laki, akan muncul pula ketidakseimbangan. Biasanya karena merasa tidak mau kalah dengan laki-laki, kaum feminis akan terjun ke dalam bidang-bidang yang biasanya didominasi oleh laki-laki. Namun perempuan bukanlah laki-laki. Kondisi kejiwaannya berbeda, dan spesifikasi dirinya pun jelas berbeda. Ketika perempuan disibukkan dengan aktivitas di luar rumah, maka ia pun lupa dengan anak-anaknya. Padahal, tidak ada yang lebih baik dalam hal mendidik anak daripada perempuan. Laki-laki tidak akan pernah bisa mengungguli perempuan dalam hal ini. Ketika perempuan telah lupa dengan anak-anaknya, muncullah generasi muda yang bejat dan semakin bejat saja seiring jaman berganti.
Laki-laki tidak sama dengan perempuan, dan tidak perlu memaksakannya untuk sama. Tapi laki-laki dan perempuan jelas setara. Allah menciptakan manusia dalam keadaan berpasangan untuk saling melengkapi. Karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki, dan ada pula hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh perempuan. Tidak ada gender yang unggul dalam Islam. Yang ada hanyalah pembagian tugas.