men crisis center?
Mungkin aja, kita sering mendengar istilah women crisis center (WCC).. seperti apa detailnya aku juga tidak paham dan tidak berusaha ingin tau sampai….
ya.. sampai aku bertemu dengan seorang relawan dari sebuah LSM WCC. Waktu itu hari kamis, seminggu sebelum lebaran 1426H, saya dalam perjalanan balik dari kediri ke surabaya setelah menyelesaikan pekerjaan di sebuah BUMN disana.
Dengan menaiki sebuah bis umum tarif biasa yang ber-AC (tapi kebanyakan ACnya dimatiin kalau bis udah jalan :-p) dengan jumlah penumpang tidak terlampau banyak.. saya memutuskan mencari kursi kosong pada deretan dua-dua (karena aku merasa badanku terlalu besar kalo harus duduk berdua), saat itu saya sangat menikmati perjalanan ini meskipun dalam keadaan puasa dan kondisi badan tidak fit, karena selama 2 hari harus jalan ke pasuruan, mojokerto dan kediri. Setelah separoh perjalanan.. tepatnya daerah mojoagung.. ada penumpang baru, seorang gadis berjilbab berjalan mendekati kursiku.. mestinya dia lewat aja.. karena kursi yg tersisa tinggal separuh.. ternyata dugaanku meleset.. dia nekat duduk disebelahku.. sebut aja dia RS.
Sepuluh menit berlalu, seperti sejam.. maklum, karena aku gak bisa bergerak karena bis umum jarak antar deretan kursi memang sempit bahkan lututku tidak bisa lurus… karena ingin bergerak mengatur cara duduk dan pasti akan bersenggolan dengannya, agar tidak tersinggung, aku mencoba utk membangun komunikasi dengan RS, basa-basi tanya2.. dan juga di jawab basa-basi juga hehehehe… Aku pingin liat RS, tp leherku gak bisa digerakkan karena “tengeng” yang udah berasa semenjak 3 hari lalu ![]()
Tidak butuh waktu lama bisa ngobrol enak ama RS, ternyata dia alumni UWK jurusan Sosiologi dan baru bekerja sebagai relawan selama 6 bulan di sebuah LSM WCS di daerah rungkut..
Menurut penjabarannya, LSM yg didanai oleh DinSos dan LSM luar negeri seperti AusAID ini bekerja utk membantu wanita/istri yang mengalami perlakuan tidak menyenangkan baik dari perseorangan (Suami, Majikan dsb) ataupun Organisasi seperti Trafficking secara terorganisasi.. kemudian dia melanjutkan bercerita bahwa terjadinya tindak kekerasan dalam rumah tangga kebanyakan karena terjadinya perselingkuhan suami dengan rasio faktor kecukupan dalam masalah ekonomi diatas rata2..
Dari beberapa penuturannya, gadis berjilbab ini juga mengalami sebuah pertentangan internal dalam dirinya baik secara emosional maupun edukasional yaitu saat dia mendampingi korban pelecehan seksual seorang wanita yang berpakaian mini..
Fenomena ini cukup menarik bagi saya, mengapa? karena 2 sudut pandang yg berbeda utk menilai masalah seperti itu.. 1. dari sudut pandang tersangka, karena merasa diundang oleh wanita yg berpakaian sekseeh. 2. dari sudut pandang korban, karena merasa dilecehkan oleh tersangka.
ternyata bis udah masuk bungurasih.. konsentrasi kamipun terpecah.. antara ngejar bedug magrib atau meneruskan diskusi…; akhirnya kita sepakat segera berpisah.. tentu saja dengan kartunamanya ditangan, saya bisa kontak dia lagi kalo pingin tau lebih jauh tentang WCC.. sambil berharap ada secercah harapan bikin MCC (Men Crisis Centre) untuk membantu para lelaki/suami yg takut sama istrinya sehingga harus korupsi di kantor baik waktu maupun uang..
January 16th, 2006 at 12:44 am
Begitchu yaaa…hmmm…adakah dirimu pernah merasa ada yang sudah mengancam integritasmu sebagai laki-laki, sampai punya ide untuk bikin MCC ha ha ha…